CINTA SEMU (3)
Cinta Semu (3)
Oleh : Lidwina Ro
Seperti makan buah simalakama. Ya, itu kata yang tepat untuk menamai situasi yang dialami Amel sekarang. Dua pilihan yang tersaji di depannya, semua bukan pilihan yang mudah. Amel tidak bisa menolak, tetapi juga sulit untuk menerima begitu saja.
Situasi yang aneh. Amel memejamkan mata di atas ranjangnya, setelah terlebih dulu mengunci kamar tidurnya. Takdir model apa ini? Mengapa hanya dirinya yang sakit kepala?
Masih segar terekam dalam ingatan Amel, saat Tante Dewinta memeluknya erat dan membasahi bahunya dengan air mata. Sungguh Amel tak habis pikir, mengapa Tante Dewinta tidak kapok melanjutkan rencana awalnya yang sudah berantakan.
Bayangkan! Tante Dewinta memohon agar pertunangan tetap dilanjutkan! Dan kali ini ... bertunangan dengan Rey! Ya Tuhan, rasanya Amel ingin pingsan saja tadi. Tapi kesehatan Tante Dewinta yang menurun akhir-akhir ini membuat Amel harus bersikap lebih bijak mengendalikan emosi. Bagaimanapun juga, Tante Dewinta sudah seperti Ibu kedua bagi Amel. Amel sudah mengenalnya sejak kecil.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah benar hanya ada dua pilihan di muka bumi ini. Membahagiakan orang lain, atau membahagiakan diri sendiri? Dan Amel terjepit di antara pilihan itu. Kepada siapa lagi, Amel akan mengadu? Bahkan Ibu kelihatan lebih banyak diam. Meskipun tidak banyak bicara, mata Ibu jelas-jelas mengharapkan jawaban yang serupa seperti yang Tante Dewinta mohon. Bertunangan dengan Rey. Menyebalkan.
***
Anehnya, setelah itu Rey menghilang seminggu penuh. Hal itu membuat Amel bisa bernafas kembali. Mungkin Rey sudah kembali ke Amerika. Syukur-syukur kalau sekalian sudah memohon agar permintaan mamanya dibatalkan. Ah, semoga saja begitu. Amel benar-benar tidak ingin masuk kembali dalam keluarga Tante Dewinta. Cukup sekali saja, hatinya terluka. Dia juga punya hak untuk memilih hidup sendirian untuk waktu yang tidak bisa dia ditentukan.
Sayup-sayup Amel mendengar seseorang mengetuk pintu depan. Alis Amel terangkat heran. Lima menit yang lalu, Febian baru saja mengantarnya pulang. Apa ada sesuatu yang tertinggal? Amel bergegas membuka pintu.
“Mel.”
Amel tersentak kaget. Rey di depannya berdiri, mengumbar senyum seperti biasa. Dan seperti tidak ada apa-apa, lelaki itu menerobos masuk ke dalam rumah, dan duduk tanpa menunggu dipersilakan.
“Buatkan aku kopi, Mel.”
***
Sambil menyesap pelan kopinya, Rey memperhatikan Amel yang dari tadi tidak bicara. Gadis itu sendiri sebenarnya tidak menyangka Rey tiba-tiba muncul di depan pintu. Tapi untuk bertanya ke mana lelaki itu selama ini, Amel ogah.
“Tidak ingin tahu bagaimana kabarku?” tanya Rey ringan, memecah keheningan. Ada senyum simpul disudut bibir. Karakter Rey yang hangat selalu bisa mencairkan kebisuan. Meskipun Rey sering jahil, juga tidak sopan, lelaki itu juga lihai memanipulasi situasi.
Amel hanya tersenyum. Pikirannya mulai menerka apa yang akan dibicarakan lelaki ini. Kepala Amel tiba-tiba terasa berat.
“Kau masih marah padaku?”
Amel menggeleng. Amel hanya marah pada dirinya sendiri. Karena ada sisi dari bagian dalam dirinya yang terlalu lemah.
“Lalu mengapa tidak pernah menjawab teleponku? Aku di Bali seminggu menangani satu proyek Papa.”
Oh, jadi Rey di Bali. Amel mengangguk-angguk. Selama ini memang dirinya tidak pernah mau mengangkat telepon Rey.
“Aku lapar, Mel. Kau ... ada makanan?”
Amel menatap Rey kaget. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran lelaki itu.
“Aku, aku juga baru pulang kuliah, Rey. Aku ...”
“Indomie juga gak apa-apa. Atau kau keberatan aku makan di rumahmu?”
Amel tahu, Rey selalu punya seribu cara untuk membuatnya menyerah. Dan demi melihat sepasang mata jahil yang dibuat-buat sok kelaparan itu, mau tak mau membuat Amel menuju dapur. Rey memang setan!
***
Cikarang, 090222
Komentar
Posting Komentar