Postingan

KURSI KOSONG

Gambar
 Penulis : Lidwina Ro    Beberapa daun jatuh di atas kepala seorang pria tua yang sedang duduk di sebuah kursi kayu. Sesekali pria itu merapatkan jaket yang sudah tipis. Sepertinya angin yang berembus dingin tak sanggup mengusir pria itu untuk beranjak.    Entah pertarungan apa yang sedang bercokol di dalam pikirannya. Mata pria itu hanya lurus memandang ke depan. Terkadang matanya berembun, tak jarang juga bersinar redup. Lalu sesekali berkilat penuh makna. Seakan sedang menanti sesuatu yang sangat berarti. Tapi sesungguhnya aku penasaran dengan pria tua itu.    Aku menghampirinya sambil membawa secangkir kopi susu. Meletakkan hati-hati di kursi, sebelah pria itu. Seperti biasa dia mengangguk sambil tersenyum.    Pria itu adalah salah satu pelanggan baruku. Aku baru sebulan pindah di lokasi ini menjajakan kopi. Dia adalah  pria tua yang tidak terlalu suka bicara. Biasanya dia menyesap kopi susu buatanku hampir setiap sore dengan wajah m...

PERJALANAN

Gambar
 Penulis : Lidwina Ro    Manusia lahir, bertumbuh, menua, sakit, dan akhirnya mati. Suatu fase yang selalu berulang-ulang sepanjang sejarah manusia. Kalau di dalam peristiwa tersebut kita salah dalam mengisi atau memberi makna, alangkah sia-sianya hidup ini.     Ketika dalam perjalanan di atas sebuah mobil, melintas seorang pemuda ganteng, membawa kemoceng yang tidak jelas warnanya, dan mulai membersihkan kaca jendela mobil yang sebenarnya masih bersih.  Dalam hati langsung bertanya-tanya, apakah tidak ada pekerjaan lain yang lebih layak demi mendapat rupiah? Apakah pemuda itu putus sekolah sehingga susah mencari kerja? Atau sudah merasa bangga dengan usahanya mencari uang seperti itu?     Ada sekitar enam atau tujuh pemuda tanggung lainnya yang sedang bergerombol menanti giliran. Bahkan aku lihat, mereka mempunyai badan yang cukup kuat dan sehat. Lalu apa yang mendorong mereka giat mencari rupiah dengan cara seperti itu? Coba bayangkan,...

KETAHUAN

Gambar
     Penulis : Lidwina Ro    Hati Lira berdiri perih saat menatap dua sejoli yang tertawa berderai itu. Perihnya seperti ditusuk-tusuk ribuan pisau yang sangat tajam. Untuk sesaat, netranya menatap langit, menyambar sederet awan biru yang terdiam,  merapatkan mulut. Seolah-olah ingin larut menjelma menjadi buliran bening yang turun dari pipi tirus Lira.    Melihat tubuh Lira yang mulai oleng tak wajar di samping warung kecil di seberang danau Sarangan, membuat Sarah curiga. Dia meninggalkan kios baju, tak jadi memilih kaus, lalu menghampiri Lira, sahabatnya.     “Hei, ada apa denganmu, Lira?”    Lira tidak mampu menjawab. Matanya yang basah menatap Sarah dengan putus asa.     Sarah menuntun Lira masuk ke dalam warung, dan memaksa Lira untuk minum air mineral supaya agak tenang.    “Kau kenapa?” desak Sarah sambil menatap sekeliling danau Sarangan yang lumayan  penuh dengan pengunjung lokal, me...

LONELINESS

Gambar
 Penulis : Lidwina Ro    Sudah pukul sebelas malam lebih. Aku melirik jam dinding dan pintu gerbang yang masih terbuka lebar secara bergantian. Aku memang sengaja membuka pintu gerbang lebar-lebar sejak sore tadi. Anak, menantu dan cucu-cucuku akan datang menghabiskan liburan di rumah ini! Ah, alangkah bahagianya aku!    Rumah ini sudah terlalu lama sepi. Sejak istriku meninggal lima belas tahun yang lalu, hanya aku yang menempati rumah besar berkamar lima ini. Anak-anakku sudah berumah tangga di luar kota semua. Mereka hanya bisa kemari bertepatan dengan hari raya besar atau liburan sekolah saja.    Kadang-kadang aku di bawa menginap oleh anak-anakku ke rumah mereka di luar kota juga. Tetapi entah lah, tetap saja aku selalu ingin cepat-cepat pulang ke rumahku sendiri. Meski pun rumahku berada di kampung, jauh dari keramaian, tetapi aku lebih nyaman di rumah sendiri, berkawan dengan tembok sunyi dan suara jangkrik di malam hari.    Ah, apa la...

TIDAK LEMAH

Gambar
 Penulis : Lidwina Ro   Melihat sepasang manusia yang masuk ke kafe, membuatku membeku di kursi. Sialnya mataku bertemu dengan mata Jodi. Hatiku berdetak sangat keras.    Tidak mudah mengenyahkan pesona Jodi. Bagaimana pun juga, aku pernah menjadi pacarnya. Dulu.     Sejak Mak Lampir itu berhasil merebut hati Jodi, aku hanya tinggal sosok masa lalu yang menyedihkan. Kelihatannya tidak masuk akal, tapi begitu lah aku menilai cinta. Tidak jarang membuat kejutan dan depresi. Cinta selalu mampu membolak balikkan hati. Waras bisa menjadi gila. Gila bisa menjadi waras. Dari jahat  menjadi sahabat. Dari sahabat bisa pula menjadi jahat. Yang terakhir adalah kisah cintaku yang berujung berantakan, karena Nadine -Mak Lampir itu- naksir Jodi.    Bukan hanya naksir, tetapi Nadine juga merebut Jodi. Dasar kampungan!    Perutku mendadak menjadi mulas, saat Jodi menghampiri mejaku. Tak jauh dari mejaku, Nadine dengan cuek memilih menu, seakan...

IIMS Hybrid 2022

Gambar
Penulis : Lidwina Ro    Sudah dua tahun tidak menginjak JIEXPO Kemayoran ( karena pandemi ) maka, kemarin adalah sesuatu sekali bisa cuci mata tipis-tipis kembali.      IIMS adalah singkatan dari Indonesia International Motor Show. Kali ini di gelar di JIEXPO Kemayoran.  Tidak sampai dua jam, sampailah aku di tempat pameran mobil dan motor tersebut.     Tiket pada hari Senin-Jumat hanya Rp. 50.000 per orang, mulai pukul 11.00 WIB – 21.00 WIB. Sedangkan pada hari Sabtu-Minggu di banderol Rp. 70.000. pameran ini buka sejak tanggal 31 Maret sampai 10 April 2022. Berbeda dengan tahun-tahun dulu, sekarang pengunjung dapat membeli tiket melalui aplikasi Tokopedia dan Dyandratiket.com    Protokol kesehatan cukup ketat juga. Pengunjung diwajibkan menggunakan aplikasi Peduli Lindungi untuk memasuki area pameran, serta sudah mendapatkan vaksinasi minimal dua kali. Pakai masker dan hand sanitizer.      Seperti diketahui, pa...

SERIBU KUPU-KUPU

Gambar
 Penulis : Lidwina Ro   Ponselku berbunyi nyaring. Menyentak jantung, membuat kepalaku mulai berdenyut sakit karena kaget. Tanpa menengok ponsel, aku segera menyingkap selimut. Cahaya terang dari balik jendela menandakan hari mulai merangkak siang. Bergegas aku bangun dari tempat tidur, berniat untuk mempersiapkan bekal untuk Tiara.    Mbok Sari menyapa ramah saat melihat aku masuk ke dapur.    “Sarapan sudah siap semua, Bu. Apa Ibu mau dibuatkan jus tomat?”    “Maaf, Mbok. Aku kesiangan lagi. Belakangan ini kepalaku sering sakit. Eh, sudah bikin bekal sekolah buat Tiara, Mbok?”    Mbok Sari menatapku beberapa detik. Bukannya menjawab, pembantu paruh baya itu malah tersenyum sumbang.    “Beres, Bu. Sudah Mbok siapkan bekalnya tadi. Bapak juga sudah mengantarnya ke sekolah setelah sarapan tadi.”    Aku tersenyum lega. Entah mengapa belakangan ini aku sering bermasalah dengan kepalaku sehingga tidak bisa mengantar Tiara...