Postingan

Pasar Tradisional

Gambar
     Pasar Tradisional Bagiku belanja di pasar tradisional lebih menarik dibanding belanja di pasar modern. Selain bisa merasakan sengatan matahari pagi, aku juga merasakan semangat  yang mulai menggeliat dalam perputaran sendi ekonomi di tingkat bawah ini. Sapaan beberapa penjual langgananku adalah melodi indah tersendiri.  “Monggo cantik, telurnya hari ini turun harga.” “Buat ibu mah, pisang kepok sepuluh ribu saja.’ You see.. Pisang kepok sejumbo ini ceban coii.. Jadi aku tidak perlu repot-repot menawar. Hehehe  “Mamah ini mesti.” “Mesti apa to ?” “Mesti gak jelas blas.” Aku melirik aneh pada anak pertamaku yang sambil minum matanya melihatku mengeluarkan isi belanjaan di lantai. “Gak jelas apanya ? Sudah makan sarapanmu dulu. Tuh tadi pagi mama sudah bikin tahu telor.” Bukannya mengambil piring, anakku malah menunjuk-nunjuk belanjaanku. “Siapa yang akan makan pisang  sebanyak itu, mah..” “Dan itu apa mah, mangga kok baunya aneh. Terus itu apa, buah...

HARGA SEBUAH BUKU

Gambar
        “Berapa harga sebuah buku ? “Ya tergantung siapa penulisnya.” “Kalau harga sebuah kanvas ?” “Itu sih tergantung siapa pelukisnya.” “Kalau harga selembar kertas berapa ?” “Tergantung. Isi kertasnya apa dulu. Kalau kertas itu adalah selembar cek dengan nominal yang tinggi, kertas itu akan sangat berharga sekali.” Sewot pertanyaannya bisa dijawab terus, untuk pertanyaan ke empat harus lebih sulit. “Naaah, kalau begitu berapa harga sebuah kehidupan ?” “Itu tergantung juga..” “Tergantung apa lagi nih?” “Tergantung pada masing-masing manusia yang memiliki kehidupan itu sendiri. Bagaimana manusia itu mengisinya dan menjalaninya setiap hari. Terkadang orang lain menghargai/ menilai kita begitu rendah. Apakah ini masalah ? Jawabnya.. tidak. Tuhanlah yang menilai hati dan perbuatan kita. Bukan manusia yaa..” “Baiklah, baiklah.. kau benar. Kau menang lagi.” Lidwina_Ro , 28 Oktober 2021

Hidup Tidak Selalu Perlu Sebuah Rencana

Gambar
 Hidup Tidak Selalu Perlu Sebuah Rencana “Apa maksudmu ini ?” “Seringkali aku menyusun rencana. Semakin kelihatan sempurna semakin banyak yang mbleset.” “Kok bisa mbleset?” “Bisa sajalah.. Karena biasanya susunan rencananya kan versiku sendiri.” “Lhah terus... harusnya versinya siapa ?” “Versinya Tuhan.” ....... “Ka..kalau sudah mbleset, terus harus bagaimana dong ?” “Bernafas dulu.. Jangan mewek kayak aku dulu. (..aku dulu koplak, tahu! ) Banyak merenung, cari tahu kehendak Tuhan itu apa. Terus percaya, meskipun tidak masuk akal juga.. terus dan terus percaya. Memang tidak mudah bagian yang ini... Tapi bertahanlah untuk tetap percaya bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik dan lebih sempurna daripada rencana kita.” “Terus ?” “Biasanya Tuhan akan mengirim bantuan yang tidak pernah kamu duga untuk meringankan kecewa dan penderitaanmu” “Memangnya kamu pernah mengalami ?” “Pernah. Sering malah.” “Bantuan apa yang Tuhan kirimkan padamu coba.. ? Malaikat ?” “Mau tahu lanjutannya ?” “Ya ...

Yang Terdalam (3)

Gambar
 Yang terdalam (3) Baca selengkapnya di : https://lidwinarohani.blogspot.com/2021/10/yang-terdalam-2.html          Dua pria mencarinya? Pipit dan Ratna saling menatap penuh tanda tanya. Mereka berdua baru saja rebahan sambil bertukar cerita setelah makan malam, ketika ibu pemilik kost naik ke atas, mengetuk pintu kamar. Ibu kost memberitahu kalau ada dua tamu lelaki mencari Pipit.  “Mencari saya, bu?” alis Pipit bertaut, tidak percaya. Bahkan dia tak punya bayangan sama sekali yang mampir ke otaknya. Setanpun tidak. “Memangnya siapa Pit ?” tanya Ratna teman satu kasurnya menyelidik. Ratna berusia 3 tahun diatas Pipit. Selama ini Ratna lah yang lebih banyak menjaga dan melindungi Pipit. Tak heran dia sangat protektif terhadap Pipit.  “Entahlah, Rat. Ayo ikut ke bawah saja, temani aku,” ajak Pipit. Sungguh dia tak dapat menebak, karena dia tidak punya teman pria selama bekerja di Surabaya selain teman ditempat dia bekerja. Lalu mereka berdua turun k...

Yang Terdalam (2)

Gambar
Yang Terdalam (2)  Baca sebelumnya di: https://lidwinarohani.blogspot.com/2021/10/yang-terdalam-1.html          Sambil mengambil posisi duduk yang nyaman, Pipit memberanikan diri melirik wajah pria asing itu. Tubuhnya termasuk tinggi juga, terbalut jaket biru.  Ketika mata mereka bertemu, pria itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke tempat lain.          Hei !? Apa dia type pemalu, batin Pipit menerka. Dengan rahang kokoh dan hidung yang tinggi, pria itu terlihat macho. Pasti banyak gadis yang menyukai penampilannya. Pipit menggelengkan kepala, apa dia sudah tidak punya kerjaan sehingga menilai orang asing ? Kenalpun tidak!          Pipit yang biasanya alergi ditanyai orang asing, kini tergelitik oleh rasa penasaran. Apakah pria itu menyuruhnya duduk hanya karena rasa kasihan semata? Dan, mengapa pria itu tadi membuang wajahnya ? Pipit menunduk, meneliti tubuhnya sendiri, jangan-jangan penampilannya...

Yang Terdalam (1)

Gambar
           Pipit terhuyung keras ke depan ketika bis tiba-tiba mengerem mendadak. Sial ! Seseorang sigap  menangkap lengan Pipit, mencoba menahan agar Pipit tidak terjatuh. Gadis itu setengah kaget mengucap terima kasih sambil menegakkan tubuh kembali. Kakinya sedikit ngilu terinjak penumpang.          Salahnya sendiri dia bangun kesiangan. Sehingga harus ketinggalan bus pertama. Ya begini ini akibat ngegas membaca novel sampai pagi. Akhirnya alarm berteriak pun dia tak mendengar.          “Tidak apa-apa mbak ?” sapa suara berat, dekat telinga Pipit. “Oh, tidak.. tidak apa-apa,” Pipit terkejut. Mencoba mencari wajah si penyapa. Pipit baru menyadari keberadaan seseorang di dekatnya, setelah beberapa menit berdiri di bis menuju arah Surabaya, di pagi buta. “Mau kemana mbak?” pria itu bertanya lagi.  Pipit sebenarnya segan menjawab pertanyaan basi itu. Puluhan pertanyaan sama yang sering didengarnya s...

Hanya Dalam Ingatanku

Gambar
            Satu senyuman ibu selalu bisa membuatku tenang. Setidaknya meredakan  kejengkelan yang sudah lama mengendap dalam hatiku. Aku memang tidak banyak bicara.  Cukup semua kejadian  kuanalisa sendiri selebihnya mengendap dalam otakku saja. Tapi ibu seolah-olah tahu apa yang aku pikirkan. “Mau kan mengantar ibu?” sekali lagi ibu bertanya sambil menyalin resep kue dari tabloid ke buku tulis masakannya. “Malas aku bu, kerumahnya,” aku tetap bersikukuh. Enggan mengantar ibu kerumah adiknya. Lagipula, mengapa juga ibu harus mengalah ? Bukankah ibu tidak bersalah dalam perkara ini ? Anehnya lagi, ibu terlihat biasa saja ketika menghadapi  pertengkaran waktu dulu itu. Aku saja sangat terpukul melihat kejadian yang ada didepan mata itu. Tidak mampu melerai, hanya terpaku diam dalam kekagetan yang luar biasa. “Sudah terlalu lama ibu tidak ngobrol dengannya.” Ngobrol ?!! Aku mendengus lirih, tidak ingin ibu tahu betapa aku masih jengkel tin...